Pengungkapan Rencana Kerusuhan
arsipjogja – Polda Metro Jaya berhasil menghentikan rencana aksi kekerasan yang dijadwalkan pada peringatan hari HAM pada 10 Desember 2025. Tiga orang pelaku yang diduga merancang dan menghasut kerusuhan berhasil ditangkap dari lokasi berbeda. Para tersangka menyiapkan bom molotov untuk dilemparkan ke kantor polisi dan merekrut massa untuk memperbesar skala kerusuhan. Berkat koordinasi intelijen dan pengawasan aparat, rencana berbahaya ini berhasil digagalkan sebelum terjadi kekacauan.
Identitas Pelaku dan Status Hukum
Ketiga pelaku kini resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Mereka dijerat dengan berbagai pasal pidana, antara lain Pasal 45 ayat 8 jo Pasal 27B ayat (1) dan/atau Pasal 45B jo Pasal 29 UU ITE serta Pasal 335 dan Pasal 336 KUHP. Salah satu pelaku, BDM ditangkap pada Minggu 7 Desember 2025 dan langsung ditetapkan sebagai tersangka terkait dugaan ancaman kekerasan dan itimidasi melalui media elektronik. Pelaku lainnya, TSF merupakan pemilik akun Instagram @verdatius sejak Juni 2025. TSF, yang juga dikenal dengan nama panggung “Verdatius alias vrdts” di komunitas Anarko, ditangkap untuk diperiksa lebih lanjut. Menurut Kasubdut III Ditreskrimsiber Polda Metro Jaya, AKBP Rafles Marpaung, TSF menggunakan akun tersebut untuk mengorganisasi dan memprovokasi aksi kekerasan.
Barang Bukti yang Disita
Dalam penggerebekan, Polda sita bom molotov sebanyak 6 yang akan siap digunakan, beserta bahan peledak improvisasi dan dokumen perekrutan massa. Barang bukti ini menjadi dasar untuk memperkuat proses hukum dan mengungkapan motif dibalik rencana kerusuhan. Langkah penyitaan ini juga memastikan keselamatan masyarakat dan menghindari potensi kerusakan serius serta korban jiwa.
Baca Juga: Pelaku Kekerasan Seksual Mojokerto Ditangkap
Respons Pemerintah dan DPR
Komisi III DPR meminta kepolisian menindaklanjuti kasus ini secara tuntas dan mengusut motif para tersangka. Selain itu, aparat menegaskan kesiapan pengamanan untuk demonstrasi damai pada Hari HAM agar tidak disusupi unsur kekerasan. Koordinasi dengan TNI dan pihak keamanan lainnya terus dilakukan untuk menjaga ketertiban di ibu kota dan memastikan jalannya kegiatan publik tetap aman.
Ancaman yang Dihentikan
Para tersangka selain menyiapkan bom molotov, juga berusaha merekrut massa untuk memperluas skala kerusuhan, Polisi menegaskan bahwa operasi intelijen dan penggerebekan fisik menjadi kunci keberhasilan mencegah insiden yang lebih besar. Langkah cepat Polda sita bom molotov menunjukkan efektivitas deteksi dini terhadap ancaman keamanan yang potensial, sekaligus memastikan hukum ditegakkan bagi pelaku yang berupaya menggangu ketertiban publik.
Penutupan
Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya kewaspadaan aparat dan koordinasi antarinstansi dalam menghadapi potensi ancaman. Berkat tindakan cepat polda sita bom molotov, rencana kerusuhan di Jakarata berhasil dihentikan sebelum menimbulkan kerusakan atau korban. Proses hukum terhadap pelaku, termasuk BDM dan TSF, sedang berjalan untuk memastikan efek jera dan memberikan rasa aman bagi masyarakat. Kronologi pengungkapan kasus ini juga menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap potensi ancaman daring maupun fisik.
Selain itu, penegakan hukum yang tegas dan cepat akan menjadi pelajaran bagi siapa pun yang mencoba memprovokasi kekerasan, sekaligus menegaskan bahwa demonstrasi damai harus terlindungi dari gangguan, Dengan pengawasan berkelanjutan, keamanan publik dapat tetap terjaga dan masyarakat bisa melaksanakan kegiatan sosial atau demonstarsi dengan aman. Kasus ini juga menekankan pentingnya literasi digital dan kepedulian masyarakat dalam melaporkan potensi ancaman agar tindakan preventid bisa dilakukan lebih awal, mencegah risiko kerusuhan yang lebih besar.