Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program makan siang gratis Indonesia yang dicetuskan pada masa Pemerintahan Prabowo Subianto. Program ini dirancang dengan tujuan untuk membangun sumber daya unggul, menurunkan angka stunting, menurunkan angka kemiskinan, dan menggerakkan ekonomi masyarakat.

Kenapa Proyek MBG Jadi Sorotan

Sejak diluncurkan Proyek Makan Bergizi Gratis ini, lebih dari 800 siswa jatuh sakit selama sepekan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu keracunan massal yang dialami lebih dari 500 siswa mencatat rekor keracunan makanan terbanyak sejauh ini.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) melaporkan lebih dari 4.000 anak mengalami keracunan makanan program MBG, sejak diluncurkan Januari lalu. Laporan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai pengawasan kualitas makanan yang disajikan.

Sementara itu, berdasarkan laporan Tempo terhitung sejak 12 Agustus hingga 18 September 2025, kasus keracunan di berbagai sekolah sedikitnya telah menyebabkan 978 siswa dirawat di rumah sakit dengan gejala yang bermacam-macam. Mulai dari diare, gatal-gatal di seluruh badan, mual muntah, bengkak wajah, gatal tenggorokan, sesak nafas, pusing, dan sakit kepala.

Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah

Sebanyak 251 siswa di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, diduga mengalami keracunan usai menyantap makan bergizi gratis pada Rabu, 17 September 2025. Para siswa dari sekolah dasar hingga menengah atas itu dilarikan ke rumah sakit Rumah Sakit Umum daerah (RSUD) Trikora Salakan.

Garut, Jawa Barat

Di hari yang sama dengan keracunan yang terjadi di Banggai Kepulauan, 150 siswa di Garut, Jawa Barat juga dilarikan ke rumah sakit. Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Leli Yuliani mengatakan seluruh pelajar mengeluhkan gejala keracunan makanan yakni sakit pada bagian perut.

Kabupaten Lebong, Bengkulu

Kasus keracunan di Kabupaten Lebong, Bengkulu mencapai 427 siswa. Para siswa dari sekolah itu mengalami gejala mual, muntah dan lemas seusai mengkonsumsi hidangan MBG yang terdiri atas mi, bakso, sayuran, susu, dan telur, pada Rabu, 27 Agustus 2025.

Penyebab Keracunan Massal

Umumnya MBG dimasak dan dikemas 12 jam sebelum disajikan atau sampai ke tangan siswa. Dalam keadaan masih panas atau mungkin setengah panas, lalu dikemas dalam keadaan panas. Ini adalah kombinasi praktik yang sangat berisiko dari sudut pandang keamanan pangan.

1. Pertumbuhan Bakteri dan Produksi tosin

Zona suhu ini adalah lingkungan ideal bagi bakteri patogen seperti. Clostridium perfringens dan Staphylococcus aureus untuk berkembang biak dengan sangat cepat. Clostridium perfringens adalah bakteri yang tahan panas dan bisa tumbuh dengan subur di lingkungan tanpa oksigen (anaerobik). Seperti bagian tengah makanan yang padat.

2. Kontaminasi Kimia dari Wadah Logam

Suhu panas yang ekstrim dan kontak yang lama dengan wadah logam dapat memicu pelepasan zat kimia berbahaya dari material wadah ke dalam makanan. Kontaminasi kimia dari wadah logam terjadi ketika zat berbahaya seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), atau timah (Sn) larut dari wadah ke dalam makanan

3. Penurunan Kualitas Makanan

Selain masalah keamanan, ada juga dampak signifikan terhadap kualitas makanan itu sendiri.

Perubahan Rasa dan Bau: Kelembaban yang terperangkap di dalam wadah saat makanan masih panas dapat menyebabkan kondensasi, membuat makanan menjadi basah dan lembek. Makanan juga bisa kehilangan kesegaran dan rasanya akan berubah.

Tekstur Makanan: Makanan yang dimasak dengan suhu tinggi dan dikemas dalam waktu lama akan terus “memasak” di dalam wadah. Ini bisa membuat sayuran menjadi terlalu lembek atau daging menjadi kering dan tidak menarik.