https://arsipjogja.id/ – Hantaman gelombang tinggi kembali terjadi di wilayah pesisir Kota Padang sejak Senin malam hingga Selasa pagi. Fenomena alam tersebut membuat aktivitas nelayan di beberapa kecamatan pesisir terhenti total. Pemerintah daerah bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) langsung mengeluarkan himbauan resmi agar nelayan tidak melaut hingga kondisi perairan kembali stabil.
Menurut informasi BMKG Maritim Teluk Bayur, gelombang laut di wilayah Sumatera Barat mencapaiketinggian 2,5 hingga 4 meter. Tingginya gelombang dipicu oleh peningkatan kecepatan angin serta aktivitas tekanan rendadi Samudera Hindia yang memengaruhi pola arus laut. Kondisi ini diperkirakan masih akan terjadi dalam dua hingga tiga hari ke depan.
Aktivitas Nelayan Terhenti Total
Di kawasan Muara Padang, Pasie Nan Tigo, hingga Purus, perahu-perahu nelayan tampak berjejer di pinggir pantai. Tidak ada yang berani mendorong perahu ke laut karena ombak terus menghantam garis pantai. Beberapa nelayan menuturkan bahwa gelombang besar sudah terlihat sejak dini hari, bahkan suara deburan ombak terdengar lebih keras dari biasanya.
Seorang nelayan di Purus, Junaidi (45), mengaku rugi karena tidak bisa melaut selama dua hari berturut-turut. Menurutnya, ombak yang muncul kali ini cukup berbahaya dan tidak memungkinkan nelayan untuk mengambil resiko. “Daripada kemudian terjadi hal yang tidak diinginkan, lebih baik menunggu kondisi tenang,” ujarnya.
Selain tidak melaut, sebagian nelayan juga memilih mengamankan perahu mereka dengan tambahan tali agar tidak terseret ombak. Hal ini dilakukan untuk mencegah kerusakan jika gelombang semakin besar.
Pedagang Ikan Ikut Terdampak
Pengaruh gelombang tinggi tidak hanya dirasakan nelayan, tetapi juga pedagang ikan di pasar tradisional. Minimnya stok ikan membuat harga beberapa komoditas laut mengalami kenaikan. Di Pasar Raya Padang, harga ikan tongkodan kembung naik 15-20 persen. Pedagang mengaku kesulitan mendapatkan pasokan karena nelayan sama sekali tidak melaut.
Sebagian pedaganmencoba mengambil stok dari daerah lain seperti Painan atau Pariaman, namun suplai terbatas dan distribusi juga terganggu oleh cuaca buruk. Kondisi ini menyebabkan pasokan komoditas laut tidak akan stabil sepanjang hari.
Peringatan Resmi dari BMKG
BMKG meminta seluruh nelayan, operator kapal kecil, hingga wisatawan untuk mewaspadai gelombang tinggi yang sedang berlangsung. Kecepatan angin di perairan Sumatera Barat terpantau mencapa 35 knot, angka yang tergolong beresiko tinggi bagi perjalanan laut maupun aktivitas memancing.
BMKG juga menegaskan bahwa potensi gelombang tinggi dapat meningkat sewaktu-waktu , terutama saat malam hari. Oleh karena itu, masyarakat pesisir diminta tidak beraktivitas terlalu dekat dengan bibir pantai untuk menghindari terpaan ombak dadakan.
Pemerintah Kota Padang Siaga
Pemerintah Kota Padang melalui BPBD telah menurunkan tim pemantau di wilayah pesisir untuk memastikan kondisi tetap aman. Tim Siaga ditempatkan di Purus, Pasir Jambak, Muara Lasak, dan beberapa titik pantai yang dianggap rawan.
BPBD memyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada laporan kerusakan serius akibat hantaman gelombang tinggi. Namun, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan sebab kondisi laut masih flutuaktif.
Selain itu, petugas juga membantu mengamankan area wisata pantai dengan menutup sebagian akses menuju bibir pantai. Wisatawan yang datang hanya di perbolehkan berada di area aman yang telah diberi pembatas agar tidak mendekati ombak.
Masyarakat Dimintai Waspada
Warga yang tinggal dekat garis pantai juga diminta mengamankan barang-barang penting dan memperhatikan perkembangan cuaca. Meski belum ada potensi banjir rob yang signifikan, gelombang tinggi bisa menimbulkan genangan dadakan di beberapa titik.
Beberapa warga bahkan terlihat menambah tanggul darurat menggunakan karung pasir untuk berjaga jaga jika gelombang meningkat. Mereka berharap kondisi kembali normal dalam beberahari agar aktivitas nelayan dan ekonomi pesisir pulih seperti semula.