Gelombang Banjir Susulan Hentikan Evakuasi
arsipjogja – Desember 2025 menjadi penutupan tahun yang paling kelam bagi warga Huta Nabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah. Setelah terkena banjir pertama yang membawa lumpur dan material longsor, kini warga kembali dihantam banjir susulan yang lebih besar. Tim SAR terpaksa menghentikan evakuasi sementara karena arus deras membawa kayu berukuran besar dan bongkahan tanah yang banyak dari perbukitan.
Banjir susulan ini terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi yang turun berhari-hari, membuat tanah dari perbukitan menjadi turun. Ketika struktur tanah sudah penuh dengan air, longsor kecil pun mulai terjadi, sehingga menutup aliran sungai. Bendungan alam jebol, air menerjang permukiman warga dengan volume yang lebih besar, ini memicu banjir susulan yang melumpuhkan seluruh aktivitas penyelamatan. Laporan dari berbagai media memberitakan bahwa tim SAR terpaksa harus menunda proses evakuasi dan distribusi logistik. Hal ini karena aliran air terlalu deras dan penuh material kayu, mengancam keselamatan petugas. Seluruh akses jalan menuju Huta Nabolon jadi tertutup lumpur, batu dan batang pohon yang sudah tumbang.
Kerusakan Pada Lahan Pertanian
Warga Huta Nabolon berduka semakin bertambah karena kerusakan besar yang terjadi pada lahan pertanian. Berdasarkan laporan media sementara, beberapa jenis lahan yang terdampak meliputi:
- Sawah padi yang sudah siap panen
- Kebun kakao
- Kebun durian dan buah musiman
- Lahan tanaman sayur
Para petani mengaku lahan mereka rata dengan tanah dan tertimbun lumpur setebal satu meter. Bahkan buah-buahan yang harusnya sudah siap dipanen malah hanyut dan membusuk. Asidin Sitompul (62) adalah salah seorang petani di Huta Nabolon menceritakan bahwa seluruh kebunnya hilang diterjang banjir, ia mengatakan tahun ini sebagai tahun yang paling menyakitkan sepanjang hidupnya. Selain tanaman hilang, akses menuju kebun juga hancur, sehingga upaya untuk menyelamatkan tanaman yang tersisa menjadi mustahil. Situasi ini membuat ratusan petani terpukul karna kehilangan sumber pendapatan utama mereka.
Baca Juga Disini: Korban Banjir Sumatera Meningkat: Bantuan Masih Dipersoalkan
Warga Bertahan Tanpa Pakaian Bersih
Bencana ini meninggalkan luka yang sangat mendalam. Seluruh rumah warga rusak, sehingga mereka terpaksa harus mengungsi ke lokasi yang aman di perbukitan. Namun jumlah perbekalan terbatas, sementara distribusi logistik terhenti akibat banjir susulan. Hal memilukan lainnya adalah banyak sekali warga yang tidak memiliki pakaian pengganti. Semua pakaian mereka hanyut, rusak dan basah total. Warga menyebutkan kalau mereka harus menghadapi malam yang dingin tanpa pakaian bersih, bahkan beberapa cuma bisa mengenakan pakaian basah selama berhari-hari. Huta Nabolon berduka, kondisi kesehatan mulai terancam, terutama pada anak-anak, lansia dan ibu-ibu. Hal ini terjadi karena suhu malam di wilayah perbukitan sangat dingin dan risiko penyakit kulit malah mulai meningkat.
Respon Pemerintah
Dari laporan terkini mengenai Huta Nabolon berduka, belum ada informasi resmi yang menyatakan korban meninggal dunia akibat banjir susulan. Beberapa warga dilaporkan sempat terisolasi di area perbukitan. Sementara tim SAR harus menunggu kondisi yang lebih aman untuk melanjutkan proses evakuasi. Pemerintah dari daerah Tapanuli Tengah telah menurunkan BPBD, tim SAR dan para relawan. Bantuan logistik lain seperti makanan, tenda darurat, selimut dan pakaian bersih sebenarnya sudah tersedia, namun tidak bisa masuk karena beberapa faktor:
- Jembatan penghubung rusak
- Jalan utama ke Huta Nabolon terputus
- Material longsor menutup rute distribusi
- Arus banjir terlalu deras
Pemerintah sendiri mengatakan bahwa fokus utamanya adalah membuka akses jalan menuju Huja Nabolon dulu agar bantuan bisa disalurkan secara massal.